Archive for Juni, 2009

Puisi cahaya persahabatan

bayu
Wahai sinar matahari, kau menerangi ku bagaikan lentera cahaya malam yang membuat ku indah…. di suatu pagi lentera cahaya yang kan terbit membawa ku melayang dan terbangun seolah pagi ku mandi… tak terasa dunia berubah merasa apa yang di rasa sewaktu dulu,  teman lama ku sahabat lama ku yang di waktu kecil kini ku sudah ku lupai… namun cahaya bulan kan menerangi ku untuk selamanya

Namun dunia kan tak abadi untuk selama nya walau pun dunia kan terus berputar namun akan berhenti menerangi ku untuk mencari persahabatan baru di alam lain dan ku tak tau alam apa itu… namun ku tau persahabatan tak akan pernah pudar

Aku ingin sahabat ku kembali kepada sisi ku, ku ingat di waktu dulu maupun sekarang kan bersama ku namun apa yang ku rasa kini pudar ku lupai dia, ku ingat dia walau pun tak bertemu ku berjumpa dia namun tak ada, berikan cahaya mu untuk menerangi ku di waktu malam, sinar kan aku dengan cahaya bintang, matahari, mau pun bulan yg seakan setia bersama ku..

Arti dalam puisi :

Matahari menyinari kita walau pun akan berganti, seperti pepatah berbicara seperti sahabat yang enggan besama nya kan pindah ke sisi lain.. begitulah ke hidupan yang kan selama nya mau pun hanya sekedar sandiwara belakang ada yang abadi ada juga hanya sementara seperti bpk haji yg berkata selama nya kita dengan nya suatu hari nanti kan berpindah sisi tak ada yang abadi semua kan hancur di hari kiamat nanti tiada yang tesisa tiada yang hidup semua kan tiada dan tak ada lagi persahabatan..

bulan kan cahaya nya sejuk di waktu malam mungkin kita melihat bulan seakan kita ingin terbang ke bulan tapi dunia tak ada yg abadi semua kan hancur dan tiada yg tidak mungkin bisa saja kita terbang,  ke ajaiban kan datang di suatu hari nanti pesahabatan kan mungkin berdamai apa bila ke ajaiban datang mungkin saja dan andai saja untuk selamanya walaupun tak abadi ku bersama nya… seperti pepatah yg enggan menerangi kan pindah di suatu hari nanti, barang siapa yg memanfaatkan hanya untuk sekedar yg tidak baik dia kan merasa besalah dan hanya sengsara di suatu hari nanti.. dan merasa bersalah

bintang yang kecil di suatu malam menghias mala bercahaya putih yang enggan unik dan imut dan lucu seperti cahaya malam berselimut indah..

Leave a comment »

Akhir suatu senja

Malam

Inilah malam
Saat bintang benderang
Bulan melenggok anggun
Dan jengkerik bertasbih
Hening sunyi penuh arti
Saat jiwa merenung
Dan hati merunduk
Serta aku bersama-Mu

Tapi,
Ini bukanlah malam itu lagi
Karena kali ini
Aku terlelap
Pada bayang-bayang malam muram

Saat awan menghalang
Rembulan tak lagi tersenyum
Bintang berkedip penuh dengki
Hanya tersisa secuil cahya
Yang bahkan kian pudar

Dan inilah malam
Saat aku menangis
Bukan lagi karena-Mu
Tapi karena
Malam ini telah usai

Pagi

Dan pagi menjelang
Saat tirai tersingkap
Aku masih juga tak sadar

Matahari mengungkapkan cintanya
Pepohonan menyambutnya
Burung berdendang dalam lagunya
Aku masih juga tak sadar

Ayam jantan berkokok berwasiat
“Wahai, bangunlah dari dipanmu
Bangunlah mimpi nyanyimu
Karna itu bukan sekedar mimpi
Tapi itulah masa depanmu”
Aku masih juga tak sadar

Aku masih juga tak sadar
Bahwa masa depan telah usang
Berganti jadi masa sekarang
Harapan menunggu diwujudkan
Dan waktu sedang bercumbu berkejaran
Malahan aku terduduk diam
Aku masih juga tak sadar

Aku masih juga tak sadar…Oh!

Petang

Petang menutup hari itu
Tersenyum dan berkata:
Kaulah yang beruntung
Pada kesempatan yang berkunjung
Dan kau raih ia dalam gelora
Bahwa ia datang hanya untukmu
Kaulah yang beruntung
Sebab kau bahkan masih hidup
Untuk esok dan kebahagiaan
Tapi aku melengos lesu
Berharap cepat berganti waktu
Lalu malam berulang
Pagi berulang
Petang pun berulang
Untuk seterusnya berulang


Suatu senja di akhir abadi
Aku teringat sesalku,
Lalu kutorehkan sebuah puisi

Leave a comment »

Memilih sahabat

Saya ingin tanya dulu. Yang mana lebih disuka, saudaranya atau
sahabatnya? [Saudaranya, jawab yang hadir]. Yang lain bagaimana? [Kadang-kadang dgn
sahabat, kita lebih bisa curhat, jawab yang hadir]. Itu kalau mau jawaban yg lebih tepat.
Kalau memang mau berkata saudara, katakan : saya suka saudara saya
kalau dia menjadi sahabat saya.  Kalau saudara kita tidak menjadi
sahabat, kita lebih suka sahabat daripada saudara, ya kan ?

Sahabat itu apa tho ? Kalau kita buka kamus besar bahasa Indonesia,
sahabat itu diartikan teman. Ada juga dikatakan “sahabat kental”. Apa
bedanya “teman” dan “sahabat kental” ? Si A adalah teman saya ke sekolah. Si
A menemani saya ke pasar. Belum tentu dia sahabat kental saya. Kalau
sahabat kental adalah orang yg begitu dekat kepada saya, yg boleh jadi
tingkatnya sampai pada tingkat bahwa saya memberitahu rahasia saya.

Nah remaja-remaja ini punya teman-teman, kan ? Apakah semua diberitahu isi
hati kita ? Tidak. Itu ada tingkat-tingkatnya. Ada teman yg kita
beritahu rahasia-rahasia kita seperti pacar. Ada juga teman
akrab tetapi tidak diberitahu rahasia kita. Ada juga kita bersama-sama
dgn dia, kita boleh jadi ada kerja sama tetapi hati kurang cocok. Sahabat itu bertingkat-tingkat. Ada lagi yang saya kenal tetapi saya
tidak mau duduk dengan dia, tidak cocok rasanya, saya ngomong gini dia
ngomong ke sana. Itu semua bisa dinamai teman. Tetapi dalam istilah
bahasa Indonesia, teman yg sangat dekat kita namakan itu sahabat
kental.

Kalau kita merujuk pada kitab suci Al Qur’an. Istilah yg digunakan
tentang teman/sahabat itu bermacam-macam. Ada “shohib” yg dalam bahasa
Indonesia menjadi “sahabat”, itu boleh jadi shohib ini tidak seide
dengan kita. Tetapi karena dia menemani kita maka kita namakan sahabat
dalam perjalanan.

Ada lagi yg lebih tinggi, AlQur’an menamainya “shodiq” dari kata
“Shidq”. “Shiddq” itu artinya “benar”, “jujur”. Naa, sahabat yg baik
itu, yg lebih tinggi, adalah yg berkata jujur pada anda, yg sikapnya
selalu benar pada anda. Itu bagus, lebih bagus daripada sekedar
menemani.

Ada yg lebih tinggi lagi. Diistilahkan dgn “kholil”. “Kholil” itu
terambil dari akar kata bermakna “celah”. Orang yg begitu dekat dgn
anda, yg pertemanannya, yg persahabatannya, yg kasih sayangnya, masuk
ke celah-celah qalbu anda. Itu dinamai “kholil”. Ada ndak yg begitu ?
Perasaannya sudah sehati. Ketika Anda sakit dia ikut merasakan sakit.

Nah itu yg digambarkan bahwa sahabat kental itu adalah yg “dia adalah
aku”. Nah saya beri contoh. Pernah lihat di cermin ? Siapa yg dilihat
di cermin ? Diri sendiri. Itulah kholil. Itu yg persis sama dgn anda.
Apakah susah mendapat yg seperti itu ? Tapi itu boleh jadi ada. Kalau dalam
sejarah Islam itu ada Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Suatu
waktu ada orang berkata, “Saya tidak tahu siapa khalifah, siapa kepala
negara, apa kamu wahai Abu Bakar atau Umar ?”. Abu Bakar menjawab,
“Saya tetapi dia”. Kan itu sama.

Sahabat bisa mempengaruhi kita. Karena itu katanya, pandai-pandailah
memilih sahabat. Bukan teman, ya ? Bukan kenalan, ya ? Saya, kalau
tidak kenal anda, saya bisa kenal anda dengan bertanya “siapa
sahabatnya ?”. Karena sahabat itu cermin. Dalam kata-kata bersayap,
“menyangkut seseorang, jangan tanya siapa dia, tetapi carilah siapa
sahabatnya”, karena sahabat itu cermin dari orang itu. Kalau
sahabatnya baik, dia jadi baik. Kalau sahabatnya jelek, dia pasti
terpengaruh jadi jelek juga. Jadi harus pandai-pandai memilih sahabat
kita karena dia bisa mempengaruhi kita.

Naa saya beri contoh. Ini contoh dari nabi. Kalau anda bersahabat dgn
penjual parfum / minyak wangi, bagaimana kira-kira ? Dikasih minyak
wanginya atau paling tidak aromanya. Kalo berteman dgn tukang las,
bajunya terbakar atau paling tidak aromanya.

Dalam AlQuran ada kata shodiq, shohib, kholil, ada lagi kata bithonah.
Bithonah itu adalah orang yg kita beritahu rahasia kita. Ada lahir ada
batin. Bathin itu apa artinya ? Bithonah berasal dari kata bathin, yg
berarti dia tahu batin kita. Ada waliy yg
artinya adalah orang yg mendekat. Kalo Allah berfirman, “Inamal
waliyukumullahu wa rosuluhu walladzina amanu, alladzina yu’tuna
zakata…”. Orang yg beriman itu “waliy”-nya, teman akrabnya adalah
Allah, Rosul, dan orang-orang beriman. Itu temannya. Supaya dia
terpengaruh dgn temannya.

Kita lihat lebih jauh. Sekarang kalau mau bersahabat -dalam
pengertian bahasa Indonesia- apa sih tujuannya bersahabat ? Atau
sebelum itu, perlu ndak kita bersahabat ? Perlu. Kenapa perlu ? Karena
kita tidak bisa memenuhi semua kebutuhan kita. Jadi kita terpaksa,
“tolong dong”. Yang kedua, hidup ini bisa senang bisa susah. Kalo
senang sendiri, enak ndak ? [Tidak]. Naa perlu ada sahabat dong.
Semakin banyak orang yg bergembira, semakin besar kegembiraan itu.
Pernah sedih. Perlu ndak ada orang yg menghibur kesedihan kita ?
[Perlu]. Aaa kalau begitu kita perlu sahabat. Tapi jangan cari sahabat
yg hanya waktu anda senang dia mau jadi sahabat. Ada kan yg begitu ?
[Ada]. Cari sahabat yg bisa menemani anda pada waktu senang dan pada
waktu susah.

Kita lihat lebih jauh. Kenapa bersahabat ? Ini macam-macam tujuannya.
Ada orang bersahabat karena ada kesenangan. Ooo saya bersahabat dgn si
A karena dia pandai main basket atau main bola. Sama-sama senang main
bola. Ooo ini tujuan bersahabatnya hanya mau senang-senang. Ada lagi
orang bersahabat karena ada kepentingan. Katanya, sebagian
politisi begitu. Ada maunya saja. Karena itu mereka berkata bahwa
tidak ada sahabat abadi dan tidak ada musuh abadi. Karena saya punya
kepentingan maka kita bekerja sama sekarang. Besok jika tidak ada
kepentingan, tidak akan bekerja sama.

Kalau mau bersahabat yg benar, carilah orang yg terus menerus bersama
anda memberi manfaat sampai di hari kemudian. Karena Al Qur’an
berkata, “Al akhilahu yaumaidzin ba’duhum li ba’din alu ilal
muttaqin”, sahabat yg sekental apa pun yg sudah masuk kecintaannya ke
relung-relung qalbunya itu pada hari kemudian akan jadi bermusuhan
kecuali sahabat yg dijalin berdasarkan ketaqwaan kepada Allah.

Nah sekarang bagaimana kita cari sahabat ? Dulu Lukmanul Hakim,
disebutkan dalam Al Qur’an, pernah menasehati anaknya, “Nak, kalau
kamu mau cari sahabat, bikin dia marah terlebih dahulu”, kaget kan ?
“Baru lihat, kalau dia tanggapannya itu adil, wajar, tidak
berlebih-lebihan, nah itu bisa dijadikan sahabat”. Kalau baru sedikit
sudah marah, sudah memaki, wah harus berhati-hati. Kita kan bisa
salah. Begitu kita salah lantas dia marah luar biasa. Wah ini tidak
bisa menjadi sahabat. Itu nasehatnya Lukmanul Hakim.

Ada yg lain. Merujuk kepada hadist-hadist nabi. Kalau mau cari
sahabat, pertama, lihat terlebih dahulu apakah dia baik kepada
keluarganya & orang tuanya atau tidak. Kalau anak itu durhaka jangan
jadikan dia sahabat. Kedua, lihat bagaimana sikapnya terhadap materi.
Ooo ini dia baru mau kenal dgn saya kalau saya belikan dia es krim.
Kalau tidak dibelikan es krim, dia tidak mau
berteman. Ooo ini tidak bisa jadi teman dong. Lihat juga bagaimana
sikapnya tentang kedudukan, dan lain sebagainya.

Kemudian, lihat bagaimana aktivitasnya sehari-hari. Ooo dia itu main
melulu tidak pernah belajar. Apakah bisa dijadikan sahabat atau tidak ?
[Tidak bisa]. Ooo dia itu tidak sholat, dia itu tidak beragama dgn baik.
Lihat kegiatannya sehari-hari. Lihat bagaimana dia kalau anda salah.
Dia nasehati anda, dia betulkan anda, atau tidak. Aaa kalau ada yg
meninggalkan anda, itu tidak bisa menjadi sahabat.

Dan lihat keakrabannya dgn anda. Dikatakan, tidak mungkin terjalin
persahabatan antara satu penguasa dgn rakyat jelata walau pun
sebelumnya dia berteman, kalau orang yg berkuasa ini merasa dirinya
terlalu tinggi sehingga kalau ditegur dia marah. Bisa kan? Contoh, oo
tadinya dia teman saya, tapi begitu dia menjadi ketua OSIS, dia sudah
merasa gede, sombong, itu tidak bisa terjalin persahabatan. Tidak juga
bisa terjalin persahabatan kalau anda merasa minder. Ooo dia ini sudah
terlalu tinggi nih sehingga saya sudah tidak bisa menegur.

Persahabatan itu harus seimbang. Kita sama. Walaupun kamu kaya saya
miskin, kamu gagah saya tidak tampan, tapi kita kan sama-sama manusia.
Itu bisa terjalin persahabatan. Jadi kalau ada keangkuhan, tidak akan
terjadi persahabatan.

Itu tuntunannya. Jadi pilih-pilih. Lihat itu. Sebab kalau tidak, pasti
dipengaruhi. Kita tidak bisa bertahan itu.

Sekarang, anda sudah punya sahabat. Bagaimana memelihara itu
persahabatan itu ? Itu tidak gampang memelihara persahabatan. Ada
orang pandai bersahabat tetapi tidak pandai memelihara persahabatan.
Nah ada tuntunan agama bagaimana seseorang memelihara persahabatan.
Dan kalau saya berbicara tentang persahabatan ini, itu bukan hanya
antar anak-anak. Orang tua pun termasuk.

Yang pertama, dikatakan, jangan mencampurbaurkan antara serius dan
canda. Biasa serius, dianggap bercanda. Biasa bercanda, dianggap
serius. Itu kalau campurbaur, putus itu persahabatan. “Saya kan
main-main nih, main-main maki anda, terus anda anggap serius”.
[Diambil hati terus tersinggung]. Tersinggung kan ? Lha ini orang
main-main saja. Anda tidak bisa memelihara persahabatan kalau
mencampurbaurkan itu.

Yang kedua, biasa sahabat kita itu bisa bercanda, bisa juga serius dia
marah. Kalau mau pelihara persahabatan, jangan jawab marahnya atau
makiannya itu dgn makian yg serupa. Tapi bisa menjawabnya dgn bercanda
kepadanya. Dalam hubungan suami istri misalnya kalau istri marah
jangan ikut marah tetapi peluk dia, cium dia, nanti ndak jadi
marah. Jadi jangan dijawab dgn marah.  Itu terpelihara. Ooo dia marah,
dijawab dgn canda dgn muka ceria. Jadi harus ada satu yg mengalah.

Yang ketiga. Jangan sekali-kali berkata kepada teman anda, “Kamu
bodoh”. Dan jangan juga kalau dia memberi saran pada anda dan ternyata
sarannya keliru terus berkata, “Ini gara-gara kamu nih”.  Biasa begitu
? Itu tidak terpelihara. Jangan juga berkata kalau anda beri saran
pada dia lantas saran anda bagus, “Itu kan karena saya”. Itu tidak
terpelihara persahabatan.

Harus pandai mendengar. Kalau sahabat anda itu menyampaikan joke /
cerita lucu dan anda sudah tahu, bagaimana caranya ? Jangan bilang,
“Stop, itu saya sudah tahu tuh”. Tidak bisa begitu. Terus
saja mendengarkan. Ikut tertawa. Menjadi pendengar yg baik. Kalau
tidak pandai mendengar, persahabatan tidak akan langgeng.

Jangan sekali-kali, menampakkan jasa anda kepada sahabat. Karena itu
menjadikan paling tidak dia rendah diri. Kalau sudah berbeda, ada satu
yg rendah diri, satu tinggi hati, tidak terjadi persahabatan yg tulus.
Ya kan ?

Kalau sahabat anda senang, ikutlah senang. Itu adalah kewajiban
bersahabatan. Kalau dia susah, ikut susah, yg demikian lebih wajib.
Jadi jangan sekali-kali menampakkan kesedihan waktu dia senang. Jangan
juga menampakkan rasa senang waktu dia sedih. Itu baru anda
bersahabat. Ini lagi susah, eh datang bercanda.

Persahabatan ini baru bisa langgeng sampai hari kemudian kalau sesuai
dengan tuntunan agama. Karena itu di hari kemudian ada tujuh kelompok
yg mendapatkan kedudukan yg tinggi di sisi Tuhan salah satu di
antaranya adalah dua orang yg bersahabat karena Allah, bertemu dalam
tuntunan agama, dan berpisah dalam tuntunan agama.

[moderator]:
Bagaimana pendapat bapak tentang persahabatan antara dua orang yg
sudah tidak ada saling ketersinggungan dalam arti bercanda secara
kasar tidak merasa tersinggung. Itu bagaimana ?

[Jawab]:
Saya kira itu bisa saja ada. Tetapi sekali-sekali, bisa juga ada rasa
tersinggung. Jadi sebenarnya kita harus tetap menjaga. Bisa saja ada
situasi yg membuat marah lantas putus. Jadi betapa pun, bercanda
jangan berlebihan. Kalau serius, kita serius. Kalau bercanda, kita
bercanda, tapi jangan  berlebihan. Kalau bercanda dan dia tidak
tersinggung, memang seharusnya begitu. Seperti panduan pertama, jangan
campurkan antara bercanda dan serius.

[Tanya]:
Curhat. Sebatas mana dalam Islam dalam hal yg disampaikan. Mungkin
kita menyadari agak sulit sekali untuk mencari sahabat sejati. Kita
khawatir isi hati, rahasia sudah disampaikan, satu saat kita pecah
misalnya, kita berpisah dan dia benci sama kita sehingga rahasia kita
dibeberkan. Batasan-batasan dalam Islam itu sebatas mana rahasia kita
bisa diungkapkan kepada orang lain.

[Jawab]:
Yang pertama dulu, jangan curahkan semua rahasia anda kepada orang yg
anda tidak percaya. Itu sebabnya di dalam Al Qur’an dikatakan, ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran : 118). Bukan karena dia berlainan agama atau berlainan bangsa dgn anda.
Tetapi karena orang itu -yg Allah larang sebagai tempat curhat-
tidak segan-segan terus-menerus akan mencari keburukan kamu. Sudah
jelas kebenciannya kepada kamu. Dari ucapan-ucapannya. Jangan
sampaikan kepadanya.

Tetapi kalau anda yakin bahwa orang ini jujur, bisa dipercaya, dan
beragama maka silakan curhat. Silakan sampaikan rahasia. Tapi
syaratnya itu tadi. Dia orang yg terpercaya agamanya, dll.

Dan kalau dia terpercaya agamanya, tidak mungkin ia mengkhianati anda.
Itu sebabnya juga yang paling banyak tahu kita itu, kalau dalam
kehidupan suami istri, kan suami yg paling tahu istrinya  dan istri yg
paling tahu suaminya. Kalau terjadi perceraian, kalau dia beragama
(istri / suami) maka dia tidak akan beberkan keburukan
suaminya/istrinya.

Jadi curhatlah kepada orang yg anda percaya. Dan sebelum sampai pada
tingkat percaya itu ada proses. Sebelum bersahabat kan berkenalan
dahulu. Setelah berkenalan ya berteman. Setelah berteman, teruji
menjadi shodiq. Setelah shodiq menjadi khalil. Istilah lain selain itu
di Quran adalah qorin. Teman yg selalu di mana-mana curhat-curhatan.
Jadi bertingkat-tingkat.

[Tanya]:

Anak kecil bernama Gelar. Ada satu orang anak merasa cocok dgn anak yg lain. Mereka sudah bersama, selalu bareng, sudah dianggap sebagai sahabat. Tetapi mereka
berdua itu berlainan agama. Itu bagaimana ?

[Jawab]:
Bagus ni pertanyaannya. Sebenarnya tidak ada halangan dalam ajaran
Islam dalam bersahabat dengan siapa pun. Bahkan, kalau kita baca dalam
Al Qur’an dalam masalah sahabat ini, ada perintah Allah di surah An
Nisa, “Wa’budullah wala tusyriku bihi syai’an wabil walidaini
ihsana….. wa shohibi bil jambi”. Kita disuruh berbuat baik kepada
teman yg berdekatan dgn kita. Yang berdekatan ini boleh jadi yg
berdekatan rumahnya, boleh jadi berdekatan sama-sama dalam perjalanan,
dll. Tidak ada halangan untuk bersahabat. Tapi ingat, masing-masing
harus saling menghormati, harus saling menjaga perasaan, masing-masing
harus menjalankan agamanya dgn baik. Jangan sampai ada sifat-sifat
buruknya mempengaruhi kita, itu yg terlarang. Karena itu tidak
terlarang tetapi sebelum itu, sebelum akrab, yakinlah bahwa dia
memberikan manfaat buat saya. Ooo saya bersahabat mau belajar bersama,
boleh-boleh aja. Saya bersahabat mau pergi menonton bersama,
boleh-boleh aja. Walaupun berlainan agama, berlainan bangsa, berlainan
suku, selama tujuannya itu baik dan benar. Boleh saja. Saya juga punya
banyak sahabat non muslim.

[Tanya]:
Katanya, kalau terlalu akrab dengan teman itu suka kalau ada gesekan
sedikit, susah kembalinya. Apakah itu betul, pak?

[Jawab]:
Itu betul, kalau yg bersangkutan tidak memperhatikan syarat-syarat
bagi pemeliharaan persahabatan. Ini tadi, akrab sekali tetapi canda
dijadikan serius. Akrab sekali sampai tidak segan-segan berkata “kamu
bodoh” di depan orang. Padahal untuk memelihara persahabatan tetap
harus dijaga perasaan. Karena itu pula ada pesan bahwa semua yg
melampaui batas itu buruk. “Khairul ummur al washad”. Saya mau beri
contoh. Berwudhu itu berapa kali? Tiga-tiga kali. Kalau misalnya ada
air sungai, boleh ndak berwudhu empat-empat kali? Airnya ndak
habis-habis nih. Tidak boleh juga. Yang berlebih-lebihan itu buruk.
Bercanda jangan berlebih-lebihan. Naa, bersahabat, bercinta, jangan
juga berlebih-lebihan. Cintai kekasihmu sewajarnya, karena apa? Boleh
jadi ia menjadi lawanmu suatu waktu. Musuhi musuhmu sewajarnya, boleh
jadi ia menjadi sahabatmu suatu waktu. Moderasi itu, pertengahan itu
adalah yg baik. Semua yg ditengah, dala, hal ini baik. Boros jelek,
pelit juga jelek. Ceroboh jelek, penakut jelek, nah di tengahnya itu
adalah berani.

[Moderator]:
Pak Quraish, sedikit, ada beberapa pendapat bahwa ada pantangan
berbisnis bersama sahabat karena aslinya ketahuan karena itu
menyangkut materi.

[Jawab]:
Na kalau menyangkut materi ya begitu itu. Itu bisa saja terjadi.
Karena persahabatannya bukan didasari keikhlasan, bukan didasari
kepentingan yg lebih besar, tetapi didasari oleh keuntungan. Tapi
kalau dia bersahabat secara tulus, boleh jadi dia justru memberikan
sebagian keuntungannya untuk yg bersangkutan. Nah itu sahabat yg
benar.

[Kesimpulan]:
Kalau kita mau pilih sahabat, saya ingin katakan, pandai-pandailah
memilih sahabat. Carilah sahabat yg bisa memberi manfaat pada anda
sebanyak mungkin dan selanggeng mungkin. Kemudian, pandai-pandailah
memelihara sahabat. Banyak orang pandai bersahabat tetapi tidak pandai
memelihara persahabatan itu. Nah persahabatan yg langgeng itu adalah
yg didasari oleh kepentingan yg langgeng pula bukan kepentingan
sementara. Dan kepentingan yg langgeng itu tidak ada kecuali yg
berdasarkan nilai-nilai ajaran agama. Mau materi, ga langgeng. Mau
cinta/senang karena dia cantik, ga langgeng, karena kalo sudah tua
jadi jelek tho.

[moderator]:
Mudah-mudahan buat kita semua yg ada di sini dan juga pemirsa di rumah
bisa mendapatkan sahabat yg baik dan berpengaruh baik terutama untuk
kita.

Leave a comment »

Ku benci dia

Aku benci amel…..aku harap aku menyesal berteman dengan nya…aku tak kan pernah ikhlas  bahwa aku telah memberi pengetahuan pada nya mentang2 dia pintar,kaya…se’enak nya dia pamer.. banyak kelompok nya walau pun ku Cuma bertiga tp aku harap saya tak pernah berteman dengan dia kalau dia mengajak berantam sih ya..aku ladenin tp dia banyak masak 7 orang amel,darma,arif,kiki,lelak,vira,nurul lawan 3 orang itu kan tak pas…aku harap dia menyesal apa yang dia sesali aku menyesal berteman dengan nya…dia menghina ku ngesok lah..sombong lah… mentang2 kelompok nya kaya semua…dia ngejek2 orang  sedehana..

Amel kalau kamu minta maaf aku maafin kamu…siapa sih yang gak maafin sahabat nya pintu maaf buat sahabat kan terbuka untuk selamanya tuhan aja memaafkan umat nya apabila manusia selalu ada maaf buat sahabat manusia akan memaafkan semua yang dia salah…jangan malu lah kamu pada diri sendiri bahwa persahabatan pasti ada permusuhan sadar lah kamu atas ke hilafan atau kesalahan, semua orang punya salah tiada umat yang sempurna..

Amel aku gak pernah bermaksud benci aku gak ingin kamu mengejek ku ku hanya terdiam ,bukan nya ku benci kamu aku Cuma ngerasa sakit hati  di ejek kamu walau pun kamu benci aku selama nya ya..tidak apa2 tapi ku masih berharap kamu jadi sahat ku..

Amel siapa sih yang gak kenal kamu kamu tuh kaya baik tp aku gak nyangka bahwa sifat mu ini nyakitin aku..waktu itu kamu baik sama aku yang dulu ngejek di belakang kalau bayu ini bodoh ngasih tau pelajaran ke amel tp kamu masih dukung aku.. tp kanapa sekarang kamu berubah?

Apa sih mel salah ku.. sampai 2 kamu kamu benci banget sama aku..kamu pagi pagi marah sama aku entah kenapa salah ku sampai kamu hina aku..kalau yang salah aku, aku minta maaf mel..tp kanapa kamu tiba2 pagi2 kamu benci aku entah apa salah ku kini kamu benci aku?

Kamu jahat mel…kamu sungguh jahat ..aku tak sanggup kini ku satu kelas dengan mu kamu ngejek aku apa salah ku bila kamu benci dan amat benci dengan ku.. bila ini kamu yg kamu lakukan walau pun kita satu kelas kita saling berbenci aku siap seperti yang kamu ingin kan dan kalau kamu mengingin kan ini aku juga kan benci kamu mel…???

Penulis : bayu anggoro

Leave a comment »

Tentang derita

Jangan pernah bicara padaku
Tentang arti derita
Jikalau tidak dalam satu waktumu
Kau menggigit lidahmu keras, sampai kebas
Tuk menetak rasa sesak
Tuk menolak merintih pada pedih

Kau ingin menangis, tapi tak bisa
Kau berdoa untuk menangis, tetap tak bisa
Air mata lama telah kau buang,
Agar roda terus berjalan dan bertahan
Kini, kau ingin memanggilnya
Untuk tahu bahwa kau masih manusia
Tapi yang tersisa darimu hanyalah –
Hatimu yang dingin membeku
Dan gurun luas tanpa batas

Tak ada apapun
Tak ada siapapun
Tak pernah merasa kehilangan
Karena tak jua pernah memiliki
Dan dunia hanyalah cawan kosong belaka

Dan kehidupan menorehkan dendam
Untuk siapa, dan untuk mengapa
Kau mungkin takkan pernah tahu
Saat resah berubah jadi amarah
Saat lara tanpa lembut belaian
Hingga tak banyak yang tersisa
Hanya kepingan kerikil hampa

Waktu mencarutkan luka sembilu
Tiada tersapu, oleh senyum palsu

Dalam satu waktumu yang itu
Tak seorangpun menginginkanmu
Sebab tak seorangpun memahamimu
Tak ada! kecuali egomu yang membatu
Saat memohon tolong; engkau dibokong
Oleh mereka yang menetap dekat
Oleh mereka yang mengaku sahabat
Dengan pedang kata, menghujam sangat
Hinaan demi hinaan mesti kau kerat
Tiap detik tak jua berhenti, berlalu begitu lambat
Dan kau bertanya sebab apa semua derita ini
Dan kau bertanya mengapa engkau terlahir berbeda
Dan kau bertanya tentang maut yang tak jua mau menjemput
Dan kau bertanya tentang arti hidup dan keberadaanmu
Dan kau bertanya benarkah ada akhir bahagia
Tak banyak jawab, hanya rasa sakit yang menusuk tetap
Tak banyak jawab, dan kau mesti terus bertahan tetap
Meski dunia dalam gulita, tak pula ada cahya

Sementara itu, semua orang menjadi hakim
Dan kau tertuduh, di antara serigala lapar
Kecuali kau, semua merasa benar
Tanpa pernah sekalipun mereka bertanya
Tak sekalipun mereka coba bertanya….!

Sepi di antara keramaian
Sepi yang tak bisa hilang

Kau bawa rintihmu selalu
Untuk disimpan lalu

Jangan, jangan pernah bicara padaku
Tentang arti derita,
Jikalau hidupmu bertabur semburat,
Berbantal senyum, berselimut kasih
Tak satu waktumu kau mengalami derita sesungguhnya

Tapi, siapalah aku bicara padamu
Tentang arti penderitaan
Sebab aku bukanlah –
Bukanlah Ayyub dalam kisah abadi
Yang dimuliakan Tuhan oleh ujian
Untuk melawan derita dalam sendiri
Demi iman sebagai penghujung jalan

Bukan pula Nuh, bahtera nan berlayar
Diabaikan sanak saudara, demi keagungan taqwa
Menjelajah negeri, mencari ridha-Nya
Tanpa pernah berkeluh kesah,
Dalam waktu yang ratusan tahun
Tahun-tahun panjang di mana darah dicucurkan

Ia membangun kerajaan di atas perahu dan karang
Menempuh bahaya, melintasi samudera

Bukan, bukan pula Muhammad,
Sang risalah utama yang berjalan
Olehnya, umat mengenal selamat
Bahwa ia dilempar batu dan berdarah,
Bahwa ia terusir dari kampung halaman,
Bahwa ia diludahi lalu dicaci maki
Itulah harga yang mesti dibayar
Untuk keyakinan termaktub di dalam dada
Untuk kemenangan hakiki nan abadi

Mereka, mereka mengenal derita sesungguhnya
Untuk apa derita, untuk siapa diperuntukkan
Jalan yang menanjak, berbatu, dan tajam
Mereka lalui dengan ta’bah, tak sekalipun menyerah
Tak sekalipun menyerah; Namun selalu berserah pasrah

Maka,
Jika nestapa ialah tangga;
Kan kudaki sampai ujungnya.

Leave a comment »